The Heaven's Currency
Keselamatan Manusia ditentukan oleh dua rambu utama: larangan dan perintah. Meninggalkan larangan tuhan (munkar) dan menjalankan perintahNya (amar) menjadi kunci keselamatan. Tidak heran bila tuhan menjanjikan siapapun yang konsisten menjaga dua hal ini bisa meraih derajat kemuliaan tertinggi "ke-taqwa-an".
Berbeda dengan manusia, dalam dunia para setan hanya ada satu rambu: larangan. Kalau para alim dikalangan manusia membuat diktum semua boleh kecuali yang dilarang, maka dalam kacamata para setan semua boleh, apalagi yang dilarang. yang dilarang saja boleh, apalagi yang tidak. Modal inilah yang dengan jeli dimanfaatkan oleh moyang para setan, iblis ketika mengelincirkan adam dan hawa dari surga.
Kisah digusurnya pasangan manusia pertama dari surga itu sungguh sangat inspiratif dan terus menerus mengilhami para setan untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, Dewan Majelis keilmuan setan selalu mengembangkan studi, mana mana larangan tuhan yang menjadi prioritas untuk ditransformasikan menjadi sesuatu yang boleh dan menyenangkan dimata manusia.
Hal-hal yang sifatnya jasmaniah, mudah saja bagi para setan. Misalnya kalau dulu menutup aurat dianggap sebagai kehormatan, para setan telah sukses besar dengan meminjam industri hiburan untuk membaliknya. Media televisi, radio, majalah dan koran banyak yang sudah membantu, bahkan ada yang menjadi sponsor utama. Tayangan yang dipertontonkan, tulisan, iklan, siaran, yang disajikan kepada khalayak, disadari atau tidak mulai mengumbar dan memancing sahwat. "tanpa bisnis sahwat ini, usaha manusia kurang licin. bisa bisa malah sulit berkembang", begitu bisik setan.
Setanpun bersorak ketika manusia mulai termakan dan menyetujui pandangannya. Sehingga ketika ada regulasi yang menolak pornografi dan pornoaksi, tanpa dikomandopun sebagian besar dari manusia rela berdiri digarda depan untuk membela ide-ide setan. Para wanita yang kini bangga bisa memperlihatkan apa yang semestinya mereka jaga, menjadi basis uatama pendukung setan.
Sekali lagi, itu cerita yang terkait dengan jasmaniah. Namun, didunia ekonomi, caranya tidak semudah itu. Sampai akhirnya setan menemukan bahwa uang yang menjadi fungsi perantara media tukar diantara manusia, bisa menjadi perjuangan setan yang gemilang. Bagaimana caranya? biarlah itu menjadi rahasia setan.
Namun serapat-rapat setan menyembunyikan, ada saja manusia yang membongkar rahasia ini. Sebagian manusia menuturkan bahwa ekonomi akan rusak manakala fungsi-fungsi uang yang sudah diatur tuhan disingkirkan oleh fungsi-fungsi semu. Hebatnya, manusia ini secara eksplisit menyebutkan, fiat money yang dikembangkan setan bersama kolega-koleganya dari manusia terlihat "lebih baik" dimata manusia, tapi mematikan manusia.
Uang kertas yang setan terbitkan menyihir penduduk negeri. Semula segalanya berjalan baik-baik saja. Tetapi setelah penduduk negeri sudah mulai percaya, permainan pun dimulai. Trik-trik setan yang tertuang dalam "Three Pilars of Evil berhasil dengan gemilang membalikkan nasib sebuah negeri. Dalam waktu singkat, penduduk negeri banyak yang menjadi gelandangan. Kekayaan mereka disita. Utang mereka menumpuk. Kehormatan mereka tergadai. Akhirnya mereka menjadi kuli dinegerinya sendiri. Ini betul-betul skenario pemenang: datang, fasilitasi, dan kemudian kuasai. Datang hanya dengan modal mesin pencetak uang, tapi akhirnya bisa menguasai hampir semua properti dan kekayaan masyarakat. Benar-benar inspirasional. Sehingga sistem ini akan terus bisa dijual dimasyarakat manapun. Sebuah sistem tanpa cacat dan dianggap pinal.
Manusia yang berkeras menggunakan sistem lama, dengan memberlakukan logam-seperti emas dan perak-dalam transaksinya, otomatis dicap anti kemapanan dan berada dalam dunia primitif. Menyingkirkan peran emas menandai era keemasan setan. Karena melalui media pengganti emas (fiat money) setan telah mereformasi besar-besaran kerja keras menjadi kerja cerdas.
Fiat Money ibarat umpan. Begitu manusia menggunakannya, mereka akan masuk perangkap. Kalau cara tradisional hanya akan mencelakai satu dua manusia yang tergoda, maka dengan cara baru ini, ekploitasi manusia terhadap ummat manusia terjadi dengan gampang, seketika, dan mendunia. Begitu krisis ekonomi melanda karena sistem setan mulai bekerja, jutaan manusia tiba-tiba menjadi miskin. Utang mereka bertambah, tanpa mereka menambah. Kehidupan terasa semakin sulit. Kesulitan bagi manusia, adalah pintu utama menggoda mereka dari kebenaran tuhan.
Ketika Tuhan Menciptakan Emas
Kenapa tuhan perlu menciptakan emas dan perak?. Dalam buku Muqaddimah, ibnu khaldun menulis, tuhan menciptakan dua logam mulia itu untuk menjadi alat pengukur nilai/harga bagi segala sesuatu, terutama karena hanya sedikit saja logam mulia yang bisa menyimpan perwakilan nilai transaksi yang sangat besar. Al-Maqrizi dalam Ighatsah menambahkan, tuhan menciptakan dua logam mulia itu bukan sekedar sebagai alat pengukur nilai, atau untuk menyimpan kekayaan, tapi juga sebagai alat tukar (medium of exchange).
Karena itu, logam mulia itu menempati kedudukan yang sangat tinggi, boleh dibilang seperti mata uang surga (heaven's currency). Bukan karena keduanya digunakan sebagai mata uang disurga, tapi lebih karena fungsinya dalam menjaga keadilan yang menjadi salah satu ciri utama penghuni surga.
Emas dan perak memiliki nilai dan dianggap sebagai komoditas untuk menyimpan kekayaan, jauh sebelum mereka digunakan sebagai alat tukar atau uang. Masyarakat kuno sudah menggunakan emas, perak dan tembaga untuk transaksi ekonomi. Emas dan perak dipilih karena kelangkaan (rare) dan warnanya yang indah. Dalam sejarah manusia, tak lebih dari 90.000 ton emas yang ditambang dari perut bumi. Sementara perak dan tembaga untuk memenuhi transaksi dengan nilai yang rendah dari emas.
Uniknya, dunia modern mengklasifikasikan logam-logam itu dalam kolom yang sama. Tabel priodik menempatkan emas, perak dan tembaga (dengan simbul kimia masing-masing Au, Ag, dan Cu) dalam grup yang sama, yakni golongan 11. Berbeda dengan kebanyakan logam lainnya, emas memiliki sifat yang istimewa. Pertama, ia tidak bisa diubah dengan bahan kimia lain (Indestructible). Archimides, 300SM, membuktikan bahwa emas bisa dideteksi tanpa merusak dan cuma menggunakana alat bantu air tawar biasa. Karena bukan logam yang aktif, emas juga tidak terpengaruh oleh air dan udara. Tidak seperti besi atau logam lain, emas tidak berkarat.
Selain keistimewaan itu, emas juga termasuk logam yang lunak. Emas bisa ditempa menjadi lempengan super tipis (malleable) dan juga bisa dibuat dawai atau kawat super mini (ductile). Bayangkan satu ons emas bisa ditempa dengan luas seukuran 100 kaki persegi atau dibuat kawat sepanjang 50 mil.
Emas juga dikenal sebagai logam paling berat. Satu kaki kubik emas beratnya lebih dari setengah ton. Itulah kenapa tidak ada pencurian emas dalam jumlah besar dalam sejarah, karena untuk keperluan itu dibutuhkan alat berat untuk mengangkatnya.
Dinar dan Dirham
Semasa Rasulullah SAW, dinar dan dirham digunakan dalam transaksi ekonomi. Dinar mencerminkan emas murni seberat 4,25 gram. Sementara dirham terbuat dari perak dengan berat 3 gram. Dari sisi berat, 7 dinar sama dengan 10 dirham.
Agak cukup mengherankan, Rasulullah yang membawa pandangan dan paradigma baru dalam kehidupan ekonomi dan sosial mengunakan dan mengakui dinar dan dirham yang sebetulnya bukan mata uang asli penduduk Makkah. Dinar disebut sebagai mata uang dari Bizantium, sementara dirham dari Persia. Namun pengakuan Rasulullah ini menjadi penting dan menunujukkan betapa dinar dan dirham hanyalah sekadar nama, esensinya, keduanya dibuat dari sesuatu yang berharga: emas dan perak yang layak dijadikan mata uang universal.
Kenapa mata uang ini layak disirkulasikan ke seluruh penjuru bumi? Salah satu jawaban yang pasti, emas dan perak sangat stabil sepanjang sejarah. Berbeda dengan "fiat money" yang cenderung mengalami inflasi setiap saat, emas dan perak sangat kuat sehingga hampir tidak terkena inflasi. Itulah kenapa, meskipun penggunaan emas sebagai alat transaksi dalam dunia moderen telah dihentikan oleh Pemerintah AS, 1934, namun masyarakat dunia tetap mengandrungi emas sebagai alat investasi. Alasannya, menyimpan kekayaan dalam emas tetap stabil dibandingkan dengan dolar, bahkan bisa mendatangkan keuntungan berlipat di saat dolar AS maengalami depresiasi terhadap mata uang asing atau mengalami inflasi di dalam negeri.
Para ahli membuktikan penggunaan emas dalam transaksi perdagangan dunia, bisa menguntungkan. Karena emas menghilangkan risiko volatilitas dari mata uang. Dengan absennya volatilitas(yang disebabkan naik turunnya kurs valas) diyakini akan mempromosikan perdagangan lebih besar.
Bagi para setan, penggunaan dinar sebagai mata uang, akan merusak Three pilars of evil. Penerapan dinar akan menggusur fiat money. Dengan demikian, pengadaan uang yang diciptakan dari fiat money maupun fasilitas reserve requirements tidak akan lagi bisa dilakukan. Pemerintah tidak bisa mencetak uang semaunya. Dan yang lebih penting lagi, uang yang masuk dalam sistem ekonomi adalah uang riil, bukan uang yang sejatinya janji untuk membayar alias hutang.
Ketika uang hanya Simbul
Namun dengan bantuan sekutu-sekutu dan ahli-ahli setan dari bangsa manusia, kemunculan kembali dinar dan dirham terus dihambat. Kalau bisa malah dicegah sama sekali. Strategi setan sederhana, mengalihkan emas sebagai alat vital ekonomi. Untuk transaksi ekonomi tidak perlu emas atau logam berharga lainnya. Mata uang tidak harus selalu mencerminkan nilai dan kekayaan. Mata uang adalah simbul legal tender yang diakui negara.
Karena hanya simbul, ia tidak perlu sesuatu yang berharga. Kertas yang diatasnya dibubuhkan cap, diakui dan disahkan secara legal oleh negara melalui dekrit, suduh cukup berfungsi sebagi uang. Di sinilah keahlian setan, uang itu bisa dicetak sekehendak yang diinginkan pemerintah. Karena untuk mencetaknya tidak perlu biaya banyak. Pemerintah bisa membiayai defisit anggaran mereka dengan uang yang mereka terbitkan sendiri. Semuanya menjadi mudah.
Dengan demikian, emas dan perak yang di takdirkan sebagai heaven’s currency sebagai alat ukur dan nilai, setan preteli fungsinya hanya sekedar sebagai alat penyimpan kekayaan. Oh ya, dia akan tetap menjadi alat investasi, tapi yang jelas, fungsinya untuk menjaga keseimbangan ekonomi, telah setan pangkas.
Emas yang langka, kami ganti dengan kertas yang melimpah. Hebatnya, meskipun secara instrinsik kertas hampir tidak bernilai, di tangan setan dan para koleganya dari manusia, kertas tak ubahnya “emas”. Kertas mereka katakan as good as gold. Sistem ini sangat menguntungkan bagi mereka para setan karena uang tidak lagi ditentukan oleh kelangkaan emas, tapi diserahkan kepada manusia yang didudukkan dalam lembaga yang memegang otoritas moneter. Selama manusia itu dalam pengaruh setan, selama itu juga, setan bisa menentukan nasib manusia.
Karena melihat sisi lemah manusia, ada juga kalangan manusia yang mengingatkan sistem semacam itu akan sangat merusak. Bukan apa-apa, karena manusia tidak percaya manusia benar-benar akan melakukan tugas (mencetak uang) itu atas dasar kepentingan negara dan menjaga kepentingan manusia seluruhnya. Sebaliknya, karena memiliki wewenang yang demikian istimewa, siapapun akan sangat mudah tergelincir dalam kepentingan pendek yang menghancurkan bukan hanya mereka, tapi juga jutaan manusia lainnya. Itulah yang dengan lugas diingatkan oleh George Bernard Shaw:
”Anda harus memilih antara stabilitas alamiah emas dengan kejujuran dan
kecerdasan para wakil yang duduk di pemerintah. Dan tanpa mengurangi
rasa hormat sata kepada mereka, saya mengajurkan Anda, selama sistem
Kapitalis yang akhirnya unggul, untuk tetap memilih emas”.
Sistem kapitalis memang saat ini unggul. Namun bukan emas yang dipilih, tapi uang kertas yang diangkat. Ini berita gembira bagi setan. Karena kemunculan uang kertas, amatlah fenomenal dan menjadi lambang kepiawaian setan dalam menipu manusia.
Uang kertas (paper note atau bank note) yang disirkulasikan saat ini, semula adalah surat utang (promissory note) yang akan dibayar oleh penerbitnya (pemerintah). Namun, begitu pemerintah mendeklarasikan bahwa uang itu tidak bisa ditukarkan (dengan logam mulia alias non-redeemable), praktis kontrak untuk membayar utang tidak tertunaikan (unfulfilled contract). Dengan kata lain, utang pemerintah itu selamanya tidak akan terbayar.
Sementara dalam kacamata islam, utang tidak bisa dijadikan sebagai alat tukar . Penggunaan utang sangat terbatas pada kontrak yang di lakukan oleh mereka yang terlibat di dalamnya. Dengan demikan, paper note yang tidak lain adalah bentuk pengakuan utang (yang tidak pernah di bayar) tentu bukan dipandang sebagi alat tukar.
Seigniorage, Hilangnya Keadilan
Bagian yang paling penting penyingkiran emas dari dari peredaran alat transaksi adalah terbukanya peluang ketidakadilan. Bila dulu sebuah imperium mendapatkan pemasukan pajak dari negara/kerajaan yang di takhlukkannya, melalui fiat money sebuah negara bisa ”memajaki” negara lainnya, bahkan umat manusia sedunia melalui mata uang yang diciptakannya. Ketika nilai dolar terdepresiasi terhadap mata uang lainnya, maka para pemegang dolar di seluruh dunia membayar inflasi yang ditimbulkannya .
Yang jauh lebih menyesakkan, manfaat yang diperoleh oleh si penerbit mata uang atau yang di kenal sebagai Seigniorage membuat perubahan dramatis dalam perdaganagn dunia.
Dalam kasus dolar, The Fed menjadi pihak yang di untungkan dengan terus mencetak dolar, sementara pihak lain harus menyerahkan komoditi yang semuanya bisa di beli dengan dolar.
Sekadar ilustrasi, untuk setiap penciptaan satu lembar dolar uang kertas, biayanya kira-kira empat sen dolar . Dengan kata lain Seigniorage yang di kantongi The Fed untuk tiap dolar sama dengan 0,96 sen ( 1 dolar dikurangi 4 sen dolar). Sementara di belahan dunia lain ada 2,8 miliar jiwa yang hidupnya bersusah payah hanya untuk mendapatkan dua dolar sehari bahkan 1,2 miliar jiwa yang kerja kerasnya hanya dihargai satu dolar sehari? Apakah adil, sumber daya alam ketiga dikeruk dan ditukar hanya dengan uang kertas yang tak sedikitpun digaransi dengan emas ?.
Jelas tidak adil. Disinilah sukses besar mereka, para setan. Karena keadilan yang ditawarkan oleh mata uang langit (heaven’s currency) yang dicerminkan oleh logam mulia sudah dikebiri. Kalau keadilan ekonomi hilang, maka tinggal saatnya menunggu kerusakan manusia. Saatnya panen besar mereka.
Muhammad SAW, nabinya para penentang setan, dengan keras mengingatkan agar siapa pun tidak bermain-main dengan keadilan. ”Berhati-hatilah dari berbuat ketidakadilan karena ketidakadilan bisa membawamu kepada kegelapan (dzulumat) pada hari pembalasan.” Disebut kegelapan (absolute darkness) karena ketidakadilan memancing disharmoni. Ia merusakkan tali persaudaraan, dia mencampakkan solidaritas. Sebaliknya mendukung konflik, tension, kejahatan, menciptakan masalah yang ujung-ujungnya penderitaan manusia. Karena begitu pentingnya keadilan, Ibn Taymiyyah menegaskan, apakah muslim, non muslim, atau bahkan orang yang tidak adil pun harus di perlakukan dengan adil. Dia menegaskan, ”Tuhan menegakkkan negeri yang menjamin keadilan, meskipun mereka bukan orang yang beriman, tapi tidak akan menegakkan negeri yang membiarkan ketidakadilan, meskipun mereka Muslim.
Jelaslah, menjaga eksistensi keadilan berekonomi akan sangat erat kaitannya dengan menegakkan perekonomian yang didukung oleh mata uang yang sehat dan kuat seperti emas dan perak. Sepanjang ekonomi masih di fasilitasi dengan fiat money, maka keadilan tidak akan pernah tegak. Ketiadaan keadilan sangat ditunggu mereka para setan. Karena melalui pintu ini, seribu satu alasan bisa mereka bisikkan kepada kita manusia untuk menjerumuskannya dari kebenaran.
(Sumber: Buku 'SATANIC FINANCE - True Conspiracies', A. Riawan Amin)
Kembali ke Daftar Artikel
|